{"id":140,"date":"2026-07-21T04:06:58","date_gmt":"2026-07-21T04:06:58","guid":{"rendered":"http:\/\/web-ilham.test\/?p=140"},"modified":"2026-07-21T04:06:58","modified_gmt":"2026-07-21T04:06:58","slug":"berebut-lawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/2026\/07\/21\/berebut-lawang\/","title":{"rendered":"berebut lawang"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-4-3 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"Berebut Lawang Berbalas Pantun Tradisi Adat Melayu Belitong 2\" width=\"500\" height=\"375\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/a4uCkommkmE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Belitung yang memiliki budaya melayu memang punya tradisi berpantun yang tak lekang zaman. Dari budaya pantun yang terus menerus menurun inilah kemudian di Belitung muncul tradisi berebut lawang. Berebut lawang ini sendiri adalah tradisi beradu pantun antara dua pihak mempelai dalam acara pernikahan. Bila Anda akrab dengan tradisi palang pintu pada budaya Betawi, maka budaya berebut lawang ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Bahkan dalam konsepnya, budaya berebut lawang sama seperti palang pintu dimana beradu pantun ini dilakukan saat pihak mempelai pria akan masuk rumah calon mempelai wanita pada acara pernikahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Permulaan Berebut Lawang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"900\" height=\"500\" src=\"http:\/\/web-ilham.test\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-141\" srcset=\"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-1.jpg 900w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-1-300x167.jpg 300w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-1-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 900px) 100vw, 900px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum adu pantun dimulai, dalam budaya berebut lawang ini diawali dulu dengan penjemputan kedatangan pihak pengantin pria oleh pihak pengantin wanita. Saat bertemu, kedua belah pihak akan saling bersalaman dan kemudian pihak mempelai wanita akan memberikan sirih, gambir serta kapur ke pihak pengantin laki-laki sebagai simbol penghormatan. Rombongan pengantin pria sendiri datang dengan iringan musik hadrah aau musik rebana sembari menyanyikan lagu bernuansa Islami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga Pos Dalam Berebut Lawang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"900\" height=\"500\" src=\"http:\/\/web-ilham.test\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-2-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-144\" srcset=\"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-2-1.jpg 900w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-2-1-300x167.jpg 300w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-2-1-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 900px) 100vw, 900px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi atau budaya berebut lawang sendiri ada tiga pos yang harus dilewati oleh pihak mempelai laki-laki untuk sampai ke rumah pihak mempelai perempuan. 3 pos atau pintu yang akan dilewati ini sendiri dalam tradisi Belitung menjadi simbol atau cerminan tanggungjawab suami kepada istri saat nanti berkeluarga. Pos petama adalah ketika mempelai pria akan memasuki halaman rumah sang mempelai wanita. Di pos pertama ini akan terjadi adu pantun antara perwakilan pihak mempelai laki-laki dengan pihak mempelai perempuan. Adu pantun di pos pertama ini sendiri umumnya berisi pantun-pantun dengan tema pengenalan calon suami dan keluarganya ke pihak calon istri. Pos atau pintu pertama sendiri memiliki filosofi bahwa pengantin laki-laki atau calon suami harus siap memberi nafkah kepada istri dan anaknya kelak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan Pos Kedua<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"900\" height=\"500\" src=\"http:\/\/web-ilham.test\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-145\" srcset=\"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-3.jpg 900w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-3-300x167.jpg 300w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-3-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 900px) 100vw, 900px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berhasil melewati pos pertama, romobongan pengantin pria harus berhadapan dengan pos kedua yang berada tepat di depan pintu masuk rumah calon pengantin wanita. Di pos kedua ini perwakilan pengantin pria kembali harus beradu pantun dengan perwakilan pengantin wanita. Pada tantangan adu pantun di pos kedua ini, pantun-pantun yang dilancarkan biasanya berisi ucapan salam kepada sang pemilik rumah. Pada tantangan di pos atau pintu kedua ini memiliki cerminan bahwa pengantin laki-laki yang akan jadi suami harus mampu menjadi pemimpin atau imam yang baik bagi istri dan anaknya nanti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan Pos Terakhir<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"900\" height=\"500\" src=\"http:\/\/web-ilham.test\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-foto_utama-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-146\" srcset=\"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-foto_utama-1.jpg 900w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-foto_utama-1-300x167.jpg 300w, https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/229-foto_utama-1-768x427.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 900px) 100vw, 900px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tantangan selanjutnya muncul di pos terakhir yakni pos ketiga yang berada di depan kamar mempelai wanita. Di sini kembali terjadi adu pantun yang kali ini dilakukan oleh sang mempelai laki-laki dengan maksud supaya bisa menemui sang calon istri di dalam kamarnya. Sementara itu tantangan di pintu atau pos terakhir ini memberi arti bahwa calon suami nantinya harus bisa merias istri dan anak-anaknya dengan salah satunya memberikan pakaian yang layak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memberikan Uang Perayu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi atau budaya berebut lawang ini, pihak perwakilan pengantin laki-laki tidak hanya harus beradu pantun. Namun di setiap pos yang ada, rombongan mempelai pria ini harus juga memberikan \u2018uang perayu\u2019 kepada perwakilan mempelai wanita. \u2018Uang perayu\u2019 ini sendiri merupakan syarat supaya pihak rombongan pengantin laki-laki bisa melewati pos-pos yang ada tersebut. \u2018Uang perayu\u2019 ini sendiri bukan berarti nantinya menjadi milik pengantin wanita, tapi uang tersebut akan digunakan untuk membantu kelancaran jalannya pernikahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nantinya \u2018uang perayu\u2019 yang didapatkan oleh pihak perwakilan mempelai wanita akan diberikan kepada beberapa pihak seperti kepada tukang masak yang uangnya didapat di pos pertama halaman rumah. Kemudian \u2018uang perayu\u2019 yang didapat di depan pintu masuk rumah akan diberikan kepada ketua hajatan. Sedangkan \u2018uang perayu\u2019 yang didapat di depan kamar perempuan akan diberikan kepada tukang rias atau disebut dengan Mak Inang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah Prosesi Berebut Lawang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah prosesi berebut lawang ini selesai dilakukan maka sebelum duduk di tempat yang disediakan, pihak rombongan mempelai laki-laki akan menyerahkan berbagai hantaran yang telah dibawa kepada pihak mempelai wanita. Pengantin laki-laki dan wanita sendiri akan duduk di pelaminan. Setelah itu barulah acara resepsi pernikahan dimulai<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belitung yang memiliki budaya melayu memang punya tradisi berpantun yang tak lekang zaman. Dari budaya pantun yang terus menerus menurun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-140","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=140"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":147,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions\/147"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tourismbpvpbelitung.com\/web-ilham\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}